Indonesische Verteilschriften
Die Verteilschrift „Reise ohne Rückkehr“ von Prof. Dr. Werner Gitt zur enthält die Botschaft von zwei Zügen, die unterwegs sind Richtung Ewigkeit. Der „Lebenszug“, hat den Himmel als Ziel, der „Todeszug“ dagegen fährt in die ewige Verdammnis. Jeder wird eingeladen, vom Todeszug in den Lebenszug umzusteigen. Dies ist möglich für den, der Vergebung seiner Sünden durch Jesus Christus bekommt und ihn als Retter seines Lebens im Glauben annimmt. Dieses Traktat eignet sich besonders gut zur Weitergabe an suchende Menschen! Perjalanan tanpa kembali Di bagian dinding bawah sebuah gereja di Tirol Selatan terletak empat tengkorak, yang diatasnya tergantung sebuah papan bertuliskan: „Siapa orang bodoh? Siapa orang bijaksana? Siapa pengemis? Siapa kaisar?” Demikianlah daripadanya: orang tidak lagi melihat kuasa dari kekayaan seorang kaisar. Tengkorak dari seorang pengemis pun mungkin saja terletak disebelahnya, tetapi tidak ada kesaksian yang mengacu pada kemiskinannya, kecompang-campingannya dan perutnya yang kelaparan. Kita mungkin tergerak melengkapi ini dengan papan kedua yang bertuliskan: „Kematian membuat mereka semua sama!” Kini kita mau memeriksa, apakah rujukan ini bisa dipertahankan. Dalam promosi iklan penjualan orang berusaha untuk mencapai konsumen-konsumen tertentu; artinya kinerja yang terarah pada kelompok tertentu sebagai targetnya. Kematian tidak mengenal kelompok tertentu, karena tidak ada orang yang bisa melewatinya. Karena itu banyak orang menyibukkan diri dengan tema kematian ini: kaum filsuf, penyair, para politisi, olahragawan, bintang-bintang layar perak, kaum tuna aksara dan peraih nadiah nobel sekalipun. Yang paling intensiv menitik tema ini adalah orang Mesir kuno, karenanya mereka membangun monumen dunia terbesar, seperti piramida-piramida di Gizeh. Penyair Jerman Emanual Geibel merangkum semua upaya-upaya manusia ini dalam kesimpulan lewat kalimat-kalimat yang sangat mengena yakni: „Kehidupan adalah teka-teki yang abadi; kematian tetap merupakan teka-teki yang abadi.“ Dari banyaknya upaya akan artian tentang kematian kita sampai pada jawaban dari teori evolusi: Kematian dari sudut pandangan ajaran evolusi Dalam tata pikir evolusi wacana kematian terkait kuat, sehingga tanpanya tidak ada kehidupan di dunia ini. Ini nyata dari empat ajaran-ajaran pokok teori evolusi tentang kematian: 1. Kematian – syarat penting dalam evolusi: Carl Friedrich v. Weizsäcker menekankan: „Karena jika individu-individu tidak mati maka, tidak ada evolusi, dan yang karenanya tidak bisa dihasilkan individu yang baru yang berkarakteristika lain. Kematian individu adalah persyaratan evolusi.” 2. Kematian – temuan evolusi: Profesor Widmar Tanner dari Regensburg sebagai ahli biologi menggulirkan pertanyaan ekstensiil sehubungan dengan kematian sbb.: „Bagaimana dan mengapa kematian datang di dunia kita, jika keberadaannya tidak harus ada?” dan menjawabnya dengan: „Proses lansia dan daya tahan hidup adalah penyesuaian tampilan, yang berkembang dalam perjalanan evolusi. Temuan kematian nyata telah mempercepat langkah evolusi.” Untuknya kematian yang terprogramir selalu memberikan kesempatan berulangkali, untuk menguji-coba sesuatu yang baru dalam evolusi. 3. Kematian – pencipta kehidupan: Apapun perbedaan dari pandangan evolusi dan ajaran alkitab, sangat jelas, bahwa seturut ajaran evolusi kematian kemudian tampil menjadi pencipta dan kehidupan itu sendiri. Sehubungan dengan ini pakar mirkobiologi Reinhard W. Kaplan berkata: „Terkontruksinya penuaan dan kematian adalah derita untuk individu, dan terutama untuk kemanusiaan, tetapi inilah harga untuknya, yakni bahwa evolusi jenis kita telah dapat diciptakan.“ 4. Kematian – akhir yang mutlak dari kehidupan: Seturut ajaran evolusi, kehidupan itu sendiri ada di batasan fisika dan kimia yang mendasari keadaan materi (Manfred Eigen). Kita melihat bahwa evolusi tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan, berkenaan dengan kematian itu sendiri. Pada reduksi kebenaran sedemikian termasuk pada fenomena materi, tidak ada tempat untuk eksistensi lanjut dari kehidupan setelah kematian. Manusia direduksi sedemikian ibaratnya seperti mesin biologi, dimana akhir-mutlak disamaartikan dengan kematian organisme. Dalam putaran roda dari mekanisme evolusi kematian menunjang munculnya kehidupan lanjut. Dengan demikian harga dari kehidupan manusia hanya dipandang sebagai penyokong, yang dihasilkan untuk evolusi. Siapa yang memberikan jawaban yang benar? Siapa yang bisa memberikan jawaban terpercaya untuk semua pertanyaan-pertanyaan penting sehubungan dengan nilai kematian itu sendiri dan yang datang setelahnya? Dia harus ahli, dan karenanya hanya, jika empat kriteria kuat dibawah ini dipenuhi: 1) Dia haruslah yang pernah ada dalam kematian itu! 2) Dia haruslah yang telah datang kembali dari kematian itu! 3) Dia haruslah yang berkuasa atas kematian itu! 4) Dia haruslah mutlak terpercaya! Jika kita mengalih pandang pada sejarah dunia, dan siapa yang bisa memenuhi persyaratan unik ini, maka hanya satu yang tertinggal, dia adalah Yesus Kristus: 1) Disalibkan dan mati di depan gerbang Jerusalem. Musuh-musuh-Nya mau memastikan apakah Dia sungguh-sungguh telah mati, dan menikamkan tombak pada lambung-Nya, sehingga darah mengalir keluar (Yohanes 19:34). Kini mereka pasti, bahwa Dia sungguh telah mati! 2) Dia telah menubuatkan, bahwa Dia akan bangkit pada hari ketiga. Juga ini terjadi, dan perempuan-perempuan pada pagi Paskah menjadi saksi-saksi-Nya yang pertama di kuburan. Seorang malaikat berkata kepada mereka: „Dia tidak disini, Dia telah bangkit!” (Lukas 24:6). 3) Perjanjian Baru memberitakan tiga kebangkitan dari kematian lewat kuasa Yesus: Lasarus di Betania (Yohanes 11:41-45), orang muda dari Nain (Lukas 7:11-17) dan anak Yairus (Markus 5:35-43). Tidak ada seorangpun yang penuh kuasa dan yang dengan begitu jelasnya berkuasa atas kematian. 4) Hanya seorang yang pernah meninggalkan dunia, bisa berkata: „Akulah kebenaran” (Yohanes 14:6) dan Dia adalah Yesus. Dia sendiri bisa mempertahankan kata-kata-Nya dihadapan musuh-musuh-Nya, yang selalu berupaya, mencari kesalahan yang terkecil sekalipun daripada-Nya. Demikianlah kini kita tiba pada alamat yang benar dan dengan demikian menerobos kedalam sumber kebenaran itu sendiri. Kebenaran penting bagi keberadaan kita. Siapa yang mau membangun hidupnya dari satu kesalahan? Kini kita pastikan: Ada seseorang yang memenuhi kompetensi yang diperlukan, yang bisa memberikan informasi yang jelas. Daripada-Nya kami mengetahui, apa yang terjadi dengan setiap manusia segera setelah kematian. Di injil Lukas 16:19-31 Yesus memberikan jawab lewat satu contoh dari dua orang, yang baru saja mati. Yang satu mengenal Tuhan dan yang lain telah hidup tanpa Tuhan. Lasarus didukung oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham, dan dia sejahtera ditempatnya, yang disebut Tuhan Yesus sebagai taman Firdaus (Lukas 23:43). Yang lain adalah orang kaya, yang segera setelah kematiannya berada di neraka, dan menggambarkan kesengsaraan keberadaannya lewat kata-kata berikut: „Aku menderita dalam api ini” (Lukas 16:24b). Kematian dengan demikian bukanlah suatu perbandingan dalam hal ini; tetapi lebih daripada itu, bahkan bisa dikatakan: Kalau di dunia saja begitu besarnya perbedaan pengertian penderitaan pasca kematian itu; maka dibalik dinding kematian itu sendiri kematian itu akan jauh berbeda daripada yang bisa dijelaskan lewat kata-kata. Dimana letak permasalahannya? Penulisan selanjutnya mau membahas tema ini dengan cermat. Kematian tiga kali Dari kejelasan kesaksian alkitab dunia dan seluruh kehidupan di dalamnya bermula dari tindak penciptaan Tuhan. Penciptaan yang tuntas dan sempurna, yang dari pencipta-Nya sendiri disebut sebagai ‘sangat baik’. Karakteristika Tuhan adalah kasih dan belaskasihan demikianlah Dia menciptakan segala sesuatu lewat Anak Kesayangan-Nya (Amsal 8:30), Tuhan Yesus (Yohanes 1:10 dan Kolose 1:16). Juga dalam penciptaan-Nya, Ia tetap dalam ciri-ciri utama-Nya yakni, kelemahlembutan, belaskasihan dan kasih. Ini adalah sesuatu yang sangat berbeda dengan semua strategi dari ajaran evolusi yang ditandai lewat derita dan airmata, kekejian dan kematian. Barang siapa melihat Tuhan sebagai penyebab dari evolusi, yang berarti mempertanyakan jalan penciptaan-Nya, telah memutarbalikkan karakteristik utama Tuhan tadi. Karena itu ide tentang Tuhan yang diacu oleh teori evolusi (maksudnya teori evolusi yang bertuhan) sama sekali tidak bisa dipertahankan kebenarannya. Tetapi darimana datangnya kematian, kalau ia bukan faktor ajaran evolusi dan juga tidak sinambung dengan karakteristik Tuhan sendiri? Pendapat kami: Kematian adalah sesuatu yang umum. Semua orang mati: Dari anak-anak kecil sampai orang tua, orang-orang yang bermoral luhur demikian juga pencuri atau perampok, orang-orang yang beriman dan yang tidak beriman sama halnya akan mengalami kematian. Untuk hal yang demikian umumnya dan yang berdampak dalam haruslah pula ada satu penyebab umum. Alkitab menandai kematian sebagai akibat dari dosa manusia. Meskipun Tuhan sebelumnya sudah memperingatkan manusia (Kejadian2:17), kebebasan yang diberikan kepada manusia telah disalahgunakan yang kemudian membawanya kepada kejatuhan dosa. Sejak saat itu berlakukah hukum dosa yakni: „Upah dosa adalah kematian” (Roma 6:23). Manusia masuk dalam garis kematian, yang dalam grafik terlampir nampak sebagai garis hitam tebal. Dalam penggambarannya kita bisa menyebutnya sebagai perjalanan kematian. Sejak Adam, yang karenanya telah bertanggungjawab, kematian ini telah masuk dalam penciptaan (1 Korintus 15:22a), akibatnya seluruh penciptaan kemanusiaan kini berada dalam perjalanan yang mengerikan ini: „Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Roma 5:12). Sebelum kejatuhan dalam dosa kematian tidak dikenal dalam seluruh konsep penciptaan. Jika alkitab berbicara tentang kematian, maka yang dimaksudkan bukanlah berhenti bereksistensi. Definisi alkitabiah dari kematian berarti: „terpisah dari…” Dan karenanya kejatuhan dalam dosa ditandai oleh tiga bentuk kematian (lihat grafik terlampir), yang berarti adanya juga ada tiga bentuk keterpisahan tersebut sbb.: 1. Dari kematian rohani: Pada saat kejatuhan dosa manusia jatuh dalam „kematian rohani” yang berarti bahwa seseorang terpisah-hubungan dari persekutuannya dengan Tuhan. Dalam situasi ini juga semua manusia saat ini hidup, jika mereka tidak percaya kepada penciptanya. Mereka mulai merekayasa dann menentukan tata-cara hidupnya sendiri yang cenderung memberikan ruang pada gairah dosa. Mereka mengelola hidup mereka sedemikian seakan tidak ada Tuhan. Mereka tidak memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus dan menolak pemberitaaan alkitab. Di mata Tuhan mereka mati, sekalipun secara badani mereka hidup. 2. Dari kematian badani: Dampak lanjutnya adalah kematian badani: „… sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil” (Kejadian 3:19). Karena kejatuhan dalam dosa maka seluruh penciptaan jatuh dalam kefanaan. 3. Dari kematian abadi: Setasiun akhir dari perjalanan kematian adalah kematian abadi. Namun disana keberadaan manusia tidak lenyap (Lukas 16:19-31). Ini adalah situasi akhir dari terpisahnya hubungan dengan Tuhan. Murka Tuhan akan tinggal padanya, sebab itu: „sama seperti- oleh satu pelanggaran – Adam – semua orang beroleh penghukuman” (Roma 5:18). Yesus menggambarkan tempat kemusnahan ini sebagai neraka; ini adalah tempat yang paling mengerikan yang pernah ada: Api yang ada disana tidak „terpadamkan” (Markus 9:43&45), dan „abadi” adanya (Mateus 25:41), disana terdapat „ratap dan kertak gigi” (Lukas 13:28). Tempat yang mengerikan „dimana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam” (Markus 9:48). Ini adalah tempat „kebinasaan selama-lamanya” (2 Tesalonika 1:9). Bagaimana Tuhan melihat masuknya kita dalam kemusnahan ini? Dikarenakan oleh pengasihanan-Nya yang tak berkesudahan dan kasih-Nya kepada kita dibawa-Nya putera-Nya sendiri ke penyaliban, yang karenanya memungkinan penyelamatan yang unik. Kata-kata Tuhan Yesus „sudah selesai!” merujuk pada kenyataan penuntasan dari perjalanan kereta kehidupan. Ini adalah pernyataan daripada kemauan Tuhan (misalnya di 1 Timotius 2:4), bahwa kita diselamatkan dari neraka abadi atau dalam penggambarannya sebagai keluar dari perjalanan kereta kematian. Kita diundang untuk lewat pintu yang sesak, yang menuju surga (Mateus 7:13a+14). Seturut kesaksian alkitab Yesus adalah satu-satunya pintu dan itu berarti juga satu-satunya jalan keselamatan. Kalau kita naik kedalam kereta kehidupan, maka kita mencapai hidup kekal. Pergantian dari kereta yang satu ke kereta yang lain terjadi jika kita berserah kepada Tuhan Yesus, mengakui keberdosaan kita dalam masa lalu, mohon pengampunan-Nya dan menerima-Nya sebagai penyelamat kita. Dihadapan mata Tuhan, kita dalam hal ini telah menjadi ciptaan baru. Kasih karunia pegampunan boleh diterima oleh setiap orang, hanya kalau dia mau. Yang diberikan kepada kita dengan cuma-cuma, telah dibayar Tuhan dengan harga yang tingggi dalam bentuk pengorbanan putera-Nya sendiri. Barang siapa menuruti perintah Tuhan, memasuki break-point yang pasti ini, yang memberikan kepada kita kehidupan kekal (Yohanes 5:24). Kesempatan ini hanya diberikan kepada manusia dalam kurun kehidupan dunia saja. Jalan menuju kehidupan Sesudah sebuah ceramah datanglah seorang muda kepada saya. Dalam pembicaran dengannya saya bertanya: „Dimanakah kamu berada?” Jawabnya yang singkat: „Saya ada di setasiun!” Dia mengenali satu hal: kereta kematian harus secepatnya ditinggalkan! Pertanyaannya adalah: „Bagaimana saya sekarang naik ke kereta yang menuju kehidupan?” Dia memperkenan ditunjukkan jalan itu dan kini pergi dengan sukacita menghampiri tujuan. Tuhan bukan hanya Tuhan yang murka pada dosa, tetapi sebaliknya Tuhan pengasih kepada orang-orang yang berdosa. Jika hari ini kita naik kereta kehidupan tersebut, maka sebenarnya kita telah pesan sebuah tempat mulia di surga, seperti yang bisa dibaca di 1 Korintus 2:9 yakni: „Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” Jalan mana yang mau kita tempuh, putusan pilihan ini diserahkan Tuhan kepada kita sebagai makhluk yang bebas: „Kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup.” (Ulangan 30:19). Disini juga untuk kesekian kalinya jelas, bahwa kehendak Tuhan mengarah pada hidup. Dari grafik terlampir kita bisa membaca dari arahan kalimat sbb.: „Jika Anda hanya sekali dilahirkan (kelahiran alami), maka Anda mati dua kali (pertama-tama kematian tubuh dan kemudian kematian abadi); tetapi jika Anda dilahirkan dua kali (kelahiran alami, menjadi baru oleh Kristus), Anda mati sekali saja (kematian tubuh)!” Iman kepada Putera Allah memerdekakan kita dari penghakiman akhir dan membawa kita kepada kepastian hidup yang kekal: „Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup” (Yohanes 5:24). Jika dipikirkan akibat dari keputusan imani ini, maka sekaligus jelas, bagaimana tragisnya dampak dari ajaran evolusi dan ajarannya sehubungan dengan artian kematian bagi para pengikutnya. Mereka mengaburkan bahaya dari kematian abadi dan membiarkan manusia melewatkan kesempatan akan keselamatan. Tetapi Yesus telah datang untuk menyelamatkan kita dari jurang terdalam yakni dari neraka. Berserahlah Anda dalam sebuah doa kepada Tuhan.Dengan jalan ini Anda meninggalkan kereta kematian dan menaiki kereta kehidupan. Perubahan hidup yang mendasar ini bisa Anda mulai dalam doa sebagai berikut: „Tuhan Yesus Kristus saya mengenali situasi gawat saya. Cara hidup saya tidak berpadanan dengan Firman-Mu. Kini saya mengetahuinya: Saya telah duduk di kereta yang salah. Untuknya saya sangat terkejut dan mohon pertolongan dari pada-Mu. Ampuni semua kesalahan saya, saya sangat menyesalinya, dan rubahlah hidup saya, lewat Firman-Mu dan tolong saya untuk hidup seturut-Nya. Dengan pertolongan-Mu saya mau naik kereta kehidupan dan tetap dengan-Mu. Saya menerima Engkau sekarang dalam kehidupan saya. Jadilah Engkau Tuhan saya dan berikan kepada saya kemauan dan kekuatan untuk mengikuti Engkau. Saya berterimakasih kepada-Mu, bahwa Engkau membebaskan saya dari dosa-dosa saya dan bahwa kini saya boleh menjadi Anak Tuhan. Amin.” Direktur dan ProfesorDr.-Ing. Werner Gitt
An verschiedenen Beispielen wird die Genialität der Schöpfung dargestellt. Als Wissenschaftler erklärt Prof. Dr. Werner Gitt, dass die unglaubliche Information, die in der ganzen Schöpfung steckt, einer intelligenten Quelle bedarf. Diese Quelle ist Gott selbst. Die Wissenschaft kann nur das "Was" analysieren, nicht aber das "Woher". Das "Am Anfang schuf Gott Himmel und Erde" der Bibel gibt uns eine Antwort auf die Frage nach der Herkunft des Lebens. Der Gedanke, Gott hätte durch Evolution geschaffen (die so genannte "Theistische Evolution"), untergräbt die Autorität der Bibel und ist mit dem christlichen Glauben unvereinbar. Die Bibel zeigt deutlich, dass Jesus der Schöpfer ist. Jesus hat die Menschen geschaffen und liebt sie hingebungsvoll. Darum lädt Jesus dazu ein, diese Liebe anzunehmen. Dieses Traktat eignet sich besonders gut zur Weitergabe an suchende Menschen! Siapa penciptanya? Dunia, yang kita amati Mengacu sejenak lewat kehidupan makhluk satwa, kita melihat konsep penciptaan yang luarbiasa piawainya, misalnya melihat jenis ikan paus yang termasuk dalam binatang mamalia, yang bisa menyelam sampai kedalaman 3000 meter tanpa kemudian mengalami kesulitan untuk timbul kembali pada permukaan air. Juga pada burung pelatuk yang berdaya besar untuk menetak pohon tanpa mengalami gegar otak. Dari semua organ yang berfungsi (seperti jantung, hati, ginjal) hidup ini dalam banyak hal sangat tergantung padanya. Organ yang tidak tuntas atau bentuk yang baru berkembang ataupun organ setengah jadi tidaklah bernilai. Siapa-siapa yang berpikir seturut ajaran Darwin harus mengetahui bahwa: evolusi tidak kenal tujuan yang mengarah pada kemudian terjadinya organ-organ yang berfungsi. Banyak jenis burung memiliki kemampuan pilot otomatis, yang membuat jenis burung ini tidak tergantung pada cuaca ataupun pada siang atau malam dan yang karenanya berkekuatan terbang yang memastikan sampai tujuan. Burung laut emas jenis ini misalnya terbang dari Alaska ke Hawai untuk melewati musim dingin. Kebutuhan energi yang diperlukan dari 70 gram lemak untuk 4500 kilometer terbang adalah perhitungan yang amat cermat, dan bahkan dilengkapi dengan 6,8 gram cadangan guna menghadapi kemungkinan angin sakal. Jenis kerang nautilus hidup dibagian luar bumi dengan bentukan kerang yang menggulung, yang ruang dalamnya terbagi dalam bilik-bilik. Tergantung dari setiap kedalaman penyelaman bilik-bilik ini diisi dengan gas, yang karenanya memungkinkan jenis kerang ini untuk selalu bisa mengambang. Kapal selam modern sekarangpun jauh dari pada handal dan kaku adanya kalau dibandingkan dengan kelebihan jenis makhluk ini. Biasanya satwa ini bisa menahan sampai kedalaman 400 meter dari permukaan air dan pada malam hari naik hingga 100 meter. Adapula beberapa jenis bakteri miskrokopis kecil yang dilengkapi dengan proton yang digerakkan oleh sebuah motor elektronis, yang bisa menggerakkannya kedepan dan kebelakang. Dalam ruang kecil yang tak terbayangkan tersebut ibaratnya hanya seperenam milyar milimeter kubik dari enam motor semacam ini dimiliki jenis bakteri kecil escherechia coli tadi, seperti pusat tenaga listrik sendiri, atau sebuah sistem komputer, atau jumlah terkecil dari industri kimia. Sebuah sel yang hidup puluhan kali lebih rumit dan diciptakan jauh lebih ketat dari semua bentukan mesin yang bisa dibangun oleh manusia. Didalamnya sekaligus berjalan ribuan proses kimia yang teratur dalam padanan waktu yang sinambung satu dengan yang lain. Dalam molekul DNA ada sebuah sel yang hidup berpadat informasi tertinggi. Seperti halnya pada buku-buku maka teknik simpan ini bisa diletakkan diujung jarum, seandainya ini hanya terdiri dari materi DNA saja. Ada 15.000 milyar eksemplar! Yang jika diletakkan satu dengan yang lain merupakan tumpukan yang 200 milyun kilometer tingginya, dan itu berarti lebih dari 500 kali jarak dari dunia sampai ke bulan (= 384.000 kilometer). Dalam alam semesta terdapat kurang lebih 1025 bintang-bintang (= satu dengan 25 nol). Tidak ada kehidupan manusia yang bisa menandinginya untuk bisa menghitungnya. Ibaratnya sebuah computer cepat, yang dalam waktu sedetik bisa menghitung sepuluh milyar soal, dan yang menggantikan sistim hitung yang ada, dan untuk ini diperlukan waktu kerja 30 milyar tahun. Dalam mengamati beberapa contoh tersebut diatas setiap manusia yang berpikir akan diperhadapkan pada pertanyaan sehubungan dengan awal dari konsep penciptaan yang luarbiasa ini. Diterimanya konsep pikir evolusionis oleh banyak pakar kontemporer bukanlah jawab yang mengena karena pada dasarnya semua berpulang kepada materi – juga informasi canggih yang ada dalam sebuah sel, di dalam jiwa dan di dalam kesadaran. Hukum alam dari informasi menyatakan, bahwa informasi adalah sesuatu yang tidak materiel dan karenanya selalu merupakan sumber inteligensi utama, yang dilengkapi dengan kehendak pemiliknya. Dalam semua karya dari penciptaan nyata adanya inteligensi dan kebijaksanaan yang sangat menakjubkan. Kesimpulan dari karya penciptaan yang mangacu pada pencipta yang kreativ tidak bisa dihindari. Karenanya tibalah kita pada pertanyaan seperti: Dimana kita bisa mendapatkan jawab yang tuntas? Dalam konteks ilmu pengetahuan alam hanyalah mungkin meneliti lingkup kebenaran dari ruang dan waktu lewat berbagai metoda ukur dan timbangan. „Apa“ dari penciptaan bisa diteliti disini, tetapi tidak „darimana-“ nya. Jawaban untuk kata tanya kedua terletak diluar semua upaya manusiawi dan karenanya hanya bisa diberikan dari sisi pemiliknya sendiri. Tetapi dimanakah pencipta telah menyatakan dirinya? Di Alkitab, di Quran atau dalam salah satu buku sejarah dunia? Banyaknya ragam agama di dunia menunjukkan bahwa tidak semuanya bisa benar, karena mereka memberikan jawaban yang berbeda dan yang bertentangan. Kemungkinan mereka semua salah atau hanya satu-satunya saja yang benar. Kriteria utama penting untuk memeriksa kebenaran adalah pemenuhan nubuatan. Alkitab adalah satu-satunya buku, di dalamnya dibuktikan dari sebanyak 3268 pewahyuan yang dinubuatkan dalam kurun waktu lampau dan yang kemudian telah dipenuhi di waktu mendatang. Sehubungan dengan bukti pemenuhan berkualitas ini tidak sebuah bukupun di dunia ini bisa menandinginya. Alkitab dengan demikian luar biasa dan unik dibandingkan dengan karya penulisan-penulisan lain. Karenanya untuk saya, alkitab merupakan firman Tuhan kepada manusia. Bahkan dimulai dari ayat pertama saja, alkitab telah memberi jawab yang mengacu kepada pencipta: “Pada hari pertama Tuhan menciptakan.“ Ini sinambung dengan tantangan pentingnya sumber inteligensi utama tersebut diatas tadi. Siapakah pribadi dari pencipta? Tuhan terutama sudah selalu ada. Sebelum ruang, waktu dan materi ada, Dia adalah pelakunya. Bertolak dari satu sisi saja, kalimat pertama dalam alkitab menggugah kesan, seakan Allah sendirilah pencipta itu. Merupakan petunjuk yang penting bahwa Dia memang bukan pencipta tunggal, seperti diberitakan dalam firman penciptaan sbb.: „Baiklah kita menjadikan manusia” (Kejadian1:26). Juga Roh Kudus mengambil bagian, keturutsertaan-Nya bisa kita baca dari ayat firman penciptaan sbb.: „… dan Roh Tuhan melayang diatas air.” Alkitab tidak menyebut semuanya sekaligus, biasanya diinformasikan setapak demi setapak. Dalam perjanjian baru pertanyaan yang merujuk kepada siapa menjadi titik berat pemberitaan. Demikianlah yang kita baca di 1 Korintus 8:6 dimana dengan sangat jelas dibaca akan keterlibatan Yesus Kristus dalam karya penciptaan: „Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” Kata dalam bahasa Ibrani „Elohim” di Kejadian 1:1 adalah bentukan jamak dari kata Tuhan pencipta. Dalam kejadian sehari-hari tindak penciptaan bisa kita bandingkan sbb.: Kami sekeluarga mengunjungi teman dengan mobil. Waktu untuk pulang telah dekat, sebagai kepala keluarga saya berkata: „Sekarang kami akan pulang.” Juga kalau saya dinyatakan dalam bentuk jamak, bukankah itu berarti: Hanya satu yang duduk dibelakang setir dan yang sesungguhnya menyupir dalam perjalanan dan membawa keluarga pulang. Bagian keluarga selebihnya memang duduk bersama dalam mobil -„mengendarainya” juga – meski hanya penyupir yang secara aktif menggerakkan kemudi, gaspedal dan rem yang ada. Gambaran yang kurang jelas ini bisa memberikan kepada kita pandangan, yang diberikan alkitab sehubungan dengan tindak pelaksanaan penciptaan. Lewat Yesus Kristus, Tuhan telah menciptakan dunia. Demikianlah ditulis dalam buku Ibrani 1:2 dengan sangat jelas. Juga pada awal injil Yohanes didokumentasikan hal yang sama, yakni bahwa semua, semua yang bereksistensi, berawal pada Yesus: „Segala sesuatu dijadikan oleh Dia (oleh Dia = oleh Yesus) dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan (Yohanes 1:3). Yesus Kristus adalah pencipta Tentang tindak penciptaan Yesus kita baca lebih lanjut di Kolose 1,16:17: „Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Dalam dunia nyata maupun dalam dunia materi, tidak ada yang tidak, diciptakan lewat Tuhan Yesus. Kosmos raksasa dengan jutaan galaksi, dimana kecermatan rinci dari pembentukan sebuah sel yang hidup atau dari struktur bentukan sebuah atom. Tuhan Jesus bukan hanya pemilik utama dari keseluruhan mikro- dan makro kosmos yang ada, Dia juga penguasa dari semuanya. Diatas semua ini juga yang tidak nampak dijadikan lewat Tuhan Yesus. Dia menghidupkan surga dengan makhluk ciptaan yang tak terhitung, yang dalam alkitab disebut dengan malaikat. Keanekaragaman penciptaan yang sekaligus ketat teratur, demikian pula di dunia yang tidak nampak, nyata dari istilah-istilah seperti, tahta, kerajaan, kuasa dan kekuasaan. Yesus bukan hanya pencipta, tetapi juga pemelihara dunia ini. Semuanya ada dalam penyertaan-Nya. Dunia ini setelah penciptaan memang tidak dilepaskan begitu saja, melainkan dipertahankan lewat kuasa firman-Nya yang juga sekaligus diayomi-Nya. Karenanya kita tidak perlu takut kalaupun terjadi bencana kosmis yang dikarenakan perbenturan bintang-bintang ataupun terjadinya kebakaran dan pedinginan matahari sekalipun. Yesus mempertahankan bumi ini sampai kedatangan-Nya kembali. Tindak penciptaan Yesus dalam perjanjian lama Di Amsal 8: 22-24+30 dikatakan: „Tuhan telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala. Sudah pada zaman purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, sebelum bumi ada. Sebelum air samudera raya ada, aku telah lahir, sebelum ada sumber-sumber yang sarat dengan air … aku ada serta-Nya sebagai anak kesayangan.” Dalam terjemahan Luther dalam bahasa Jerman kata anak kesayangan diterjemahkan sebagai „pencipta ahli” yang mengacu pada keahlian Jesus dalam penciptaan. Dari ayat 26 di Mazmur 102, yang dinyatakan sekali lagi dalam perjanjian baru lewat surat Ibrani 1:10 untuk kesekian kalinya mengacu kepada Yesus: „Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu.” Bagaimana pencipta mengerjakan karya-Nya? Baiklah kita bertanya, bagaimana penciptaan ini dilaksanakan, alkitab memberitakan jalan dan metoda penciptaan sbb.: Lewat firman Tuhan: Mazmur 33:6; Yohanes 1:1-4 Tanpa materi penunjang awal: Ibrani 11:3 Lewat kuasa Tuhan: Yeremia 10:12 Lewat wibawa Tuhan: Mazmur 104:24; Kolose 2:3 Seturut kehendak Tuhan: Kejadian 1:26; Wahyu 4:11 Lewat anak Allah: Yohanes 1: 1-4, Yohanes 1:10; Kolose 1:15-17 Seturut pribadi Yesus: Mateus 11:29; Yohanes 10:11 Semua faktor-faktor ini dipenuhi dalam enam hari penciptaan. Semuanya ini berada diluar jangkauan penentuan alam dan karenanya hanya bisa diterima lewat iman. Hukum alam sekarang yang ada mengatur perjalanan dunia kita; tetapi ini bukan sebab utamanya, melainkan akibat dari penciptaan. Apa yang diberikan kepada kita dalam Yesus Kristus? Ia adalah dasar, padanya hidup kita bisa dibangun. Sebuah bank bangunan menarik perhatian khalayak ramai dengan sebuah slogan: „Pada batu ini Anda bisa membangun.” Dengan Kristus kita sungguh bisa berkata: „Di atas dasar ini Anda bisa membangun.” Dalam Kristus semua dasar dibangun: Penciptaan, alkitab, iman, keselamatan, damai sejahtera, pengharapan, jalan kepada Bapa, tujuan hidup. Kristus adalah batu karang teguh yang tak tergoncangkan (1 Korintus 10:4), padanya semua temuan sistim manusiawi dipatahkan. Jika Tuhan bekata: „Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat.” (1 Korintus 1:19), maka ini terjadi pada batu karang Yesus. Ideologi, atheisme dan sistim evolusi kandas disini. Juga para penganutnya pada saatnya harus berlutut di depan Tuhan ini (Filipi 2:10), juga jika saat ini mereka dengan gigih menolak „perencanaan”, „perencana”, „pencipta” dan „penyelamat” tersebut tadi. Mengapa ajaran evolusi itu begitu berbahaya? Mereka tidak hanya mengajarkan visi dunia yang salah, bahkan mereka membawa kita kepada hidup tanpa pengharapan, seperti yang dikatakan sangat mengena oleh penulis Jerman Jean Paul dalam novelnya „Siebenkäs“ sbb.: „Tidak ada Tuhan …. kekakuan kebisuan dari tidak ada apa-apa! Kepentingan yang dingin dan abadi! Kebetulan yang gila … Bagaimana setiapnya begitu sendirian dalam lubang pusara alam semesta!” Ajaran evolusi berpendapat,mereka mampu menjelaskankan dunia ini lepas dari penciptanya. Mereka karenanya telah memikat manusia secara konsekuen pada atheisme, dan dengan pandangan atheis ini kita mendarat di neraka, seperti yang disaksikan oleh Yesus sendiri: „… Tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” (Markus 16:16). Beberapa daripada mereka mencoba menerangkan ajaran evolusi sebagai metoda kerja Tuhan. Akan tetapi jika Tuhan diciptakan lewat evolusi tersebut maka: Tidak ada pasangan suami isteri Tidak ada dosa, karena: „Agresi merupakan roda gerak yang menggerakkan evolusi tersebut” (Joachim Illies) Maka Tuhan akan menggunakan kematian sebagai alat penciptaan Maka keselamatan lewat Tuhan Yesus, sebagai lawan dari Adam yang berdosa yang juga disebut sebagai „Adam terakhir” (1 Korintus 15:45) dibatalkan Masukan-masukan ini membuktikan, bahwa yang disebut „evolusi bertuhan” berupaya menggantikan alkitab dan landasan dasarnya dan yang berarti membuangnya. Karenanya kita hanya bisa menolak ide yang salah ini sepenuhnya. Pemikiran yang menakjubkan Kita mengenal Tuhan Yesus sebagai pencipta segala sesuatu. Dialah, yang telah ada dan abadi adanya dan Tuhan kerajaan surga. Pada-Nya diberikan kuasa atas langit dan bumi (Mateus 28:18). Dapatkah kita menjangkau pemikiran yang begitu menakjubkan ini? Laki-laki pada kayu salib di Golgota dan pencipta dunia ini dan segala yang hidup dari dan didalam satu pribadi! Dalam kasih yang tak berkesudahan kepada kita Dia membiarkan diri-Nya untuk disalibkan dan tidak menolaknya, supaya pintu surgawi dibuka untuk kita. Siapa yang menolaknya, kehilangan segalanya: „Bagaimana kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu?” (Ibrani 2:3). Siapa yang menerimanya memenangkan semuanya: „Barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup” (Yohanes 5:24). Mohonlah kepada Tuhan Yesus akan pengampunan dosa atas semua dosa-dosa Anda, sehingga Anda bisa mengatasi penghakiman Tuhan, terimalah Dia sebagai pencipta Anda pribadi sebagai penyelamat Anda dan ikutilah Dia. Direktur dan ProfesorDr.-Ing. Werner Gitt
Die grundlegende Frage, die suchende Menschen sich stellen, wird hier von Prof. Dr. Werner Gitt beantwortet. "Wie findet man den Himmel?" Auf jeden Fall nicht durch eigene Anstrengungen oder Konzepte. "Was aber bringt uns wirklich in den Himmel?" Gott hat die Einladungen für den Himmel schon verteilt wie im Gleichnis des Menschen, der zu einem großen Fest Einladungen verschickte. Doch viele Menschen redeten sich heraus. Prof. Dr. Gitt ruft dazu auf, nicht so "kurzsichtig" wie diese Leute zu sein. Jesus will uns vor der Hölle erretten und diese wird kein Vergleich zu der sogenannten "Hölle von Auschwitz" sein. Er hat am Kreuz für unsere Schuld bezahlt, wir müssen diese Einladung nur annehmen, dann ist ein Platz im Himmel "gebucht". Ein Entscheidungsgebet soll den Lesern dabei helfen. Dieses Traktat eignet sich besonders gut zur Weitergabe an suchende Menschen! Bagaimana Saya Masuk ke Surga? Pertanyaan yang berkaitan dengan kekekalan cenderung dihindari untuk dibicarakan. Bahkan kita bisa melihat hal ini pada mereka yang sedang memasuki penghujung hidup mereka. Bintang film Amerika, Drew Barrymore yang membintangi film “E.T.Makhluk luar angkasa”, ketika memasuki usia 28 tahun (lahir 1975) berkata, “Kalau saya harus mati mendahului kucing-kucing saya, biarlah abu jasad saya diberikan untuk dimakan mereka sehingga paling tidak kehidupan saya berlanjut dalam kucing-kucing itu.” Tidakkah keluguan dan pola pikir yang sempit ini sungguh mengerikan? Pada waktu Tuhan Yesus ada di dunia, banyak orang yang datang kepada-Nya dengan membawa masalah yang hampir semuanya berupa kepentingan duniawi, seperti: kesepuluh orang kusta yang mau sembuh (Lukas 17:13). orang buta yang mau melihat (Matius 9:27). pertolongan yang dinantikan dalam masalah pembagian warisan (Lukas 12:13-14). orang-orang Farisi yang datang dengan pertanyaan yang menjerat, apakah mereka harus membayar pajak kepada Kaisar (Matius 22:17). Hanya sedikit orang yang datang kepada Yesus untuk mengetahui bagaimana cara seseorang bisa masuk ke surga. Seorang muda yang kaya mencari-Nya dan bertanya, “Guru yang baik apa yang harus dilakukan supaya saya mendapat hidup yang kekal?” (Lukas 18:18). Padanya dikatakan apa yang harus dilakukan, yakni menjual segala harta padanya hatinya melekat, lalu mengikut Tuhan Yesus. Memang ada orang-orang yang tidak mencari surga, tetapi pertemuannya dengan Yesus mengacu kepada-Nya. Contohnya, Zakheus merindukan-Nya. Dia ingin melihat Tuhan Yesus, tetapi dia mendapatkan lebih dari yang dirindukannya. Setelah kunjungan Tuhan Yesus ke rumah Zakheus sepertinya pada waktu rehat kopi – Zakheus menemukan surga. Yesus berkata, “Hari ini telah terjadi keselamatan di rumah ini ....” (Lukas 19:9). Bagaimana Seseorang Menemukan Surga? Dari paparan di atas kita bisa mengatakan hal-hal berikut. Seseorang bisa menemukan kerajaan surga pada hari tertentu. Ini baik untuk diketahui bagi setiap pembaca karena hari ini mungkin sekali hidup yang kekal dari Tuhan bisa Anda dapat. Jadi, bisa saja hari ini. Mendapatkan kerajaan surga tidak bisa dihubungan dengan satu upaya/usaha. Kerajaan surga bisa didapatkan tanpa suatu persiapan. Konsep pemikiran kita tentang bagaimana bisa masuk kerajaan surga sering salah jika kita tidak bertolak dari Firman Tuhan. Seorang penyanyi pop bernyanyi tentang seorang badut yang setelah lama bekerja dalam profesi kebadutannya akhirnya mengundurkan diri. Katanya, “Dia pasti masuk surga karena dia telah menggembirakan banyak manusia.” Seorang pewaris yang kaya membangun rumah untuk orang miskin. Di dalamnya dua puluh orang perempuan bisa tinggal cuma-cuma. Untuk itu, disyaratkan bahwa pe-rempuan-perempuan itu harus mendoakan keselamatan jiwa pewaris kaya itu. Tetapi sesungguhnya, apakah yang bisa membawa kita ke surga? Untuk menjawab pertanyaan ini dengan jelas dan nyata, Tuhan Yesus menceritakan sebuah perumpamaan. Di Lukas 14:16, Dia berbicara tentang seseorang (ini mengacu kepada Tuhan) yang mengadakan sebuah perayaan besar (ini mengacu kepada kerajaan surga) dan yang sebelumnya membagikan undangan kepada orang-orang tertentu. Reaksi dari yang diundang sangat mengejutkan. “Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata, kepada pengundang: aku telah membeli ladang, yang kedua berkata: aku telah membeli lima pasang lembu kebiri; yang ketiga berkata: aku baru kawin. Karenanya mereka tidak bisa datang.” Tuhan Yesus mengakhiri perumpamaan ini dengan pernyataan tuan pengundang, “Tidak ada seorangpun dari orang-orang yang telah Ku-undang itu akan menikmati jamuan-Ku” (Lukas 14:24). Dengan demikian, nyatalah bahwa seseorang bisa mendapatkan surga atau malah kehilangan surga. Masalahnya adalah apakah ia menerima atau menolak undangan yang diberikan. Adakah yang lebih sederhana? Tentu saja tidak. Jika suatu waktu surga tertutup bagi banyak manusia pasti ini bukan disebabkan kerena mereka tidak mengenal jalan ke surga, tetapi karena mereka menolak undangan itu. Ketiga orang dalam perumpamaan tadi bukanlah teladan bagi kita karena tidak seorangpun dari mereka yang menerima undangan dan datang ke pesta besar itu. Apakah pestanya kemudian tidak berlangsung? Tentu saja tetap berlangsung! Setelah penolakan yang diterima, tuan rumah mengirimkan undangan kemana-mana. Sekarang undangan tidak lagi dikirimkan dalam bentuk dengan pinggiran emas. Sekarang hanya berlaku, “Datanglah!” Dan setiap orang yang membiarkan dirinya untuk diundang, mendapat tempat yang telah disiapkan di pesta itu. Apa yang terjadi kini? Ya, semua orang datang mereka bahkan datang berduyun-duyun. Selang beberapa lama, tuan rumah membuat perhitungan. Ternyata masih ada tempat yang lowong. Berkatalah dia kepada pelayan-pelayannya, “Pergilah keluar dan kirimkanlah undangan lagi!” Di sini saya ingin mengalihkannya kepada kita karena hal ini tepat mengena pada situasi kita. Masih ada cukup tempat di surga dan Tuhan berkata, “Datanglah! Tempatilah tempat Anda di surga! Jadilah pandai dan bersiaplah untuk menerima hidup yang kekal! Dan lakukanlah hari ini!” Surga adalah sesuatu yang tidak bisa dibayangkan indahnya. Karenanya Tuhan Yesus membandingkannya dengan sebuah pesta besar. Surat 1 Korintus 2:9 mengatakan: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” Betapapun indahnya dunia ini tidak akan bisa menyamai surga sedikitpun. Di sana serba sangat indah. Surga tidak bisa kita lewatkan karena dia terlalu berharga. Seseorang telah membuka gerbang surgawi. Dia adalah Yesus, Putera Allah. Kepada-Nyalah kita patut bersyukur sehingga terbukalah jalan surgawi. Kini tergantung pada kemauan kita. Hanya mereka yang tidak berpikir panjang seperti ketiga orang yang diundang itu yang tidak mau menerima undangan yang diberikan. Keselamatan Terjadi lewat Tuhan Yesus Dalam Kisah Para Rasul 2:21, kita membaca ayat yang penting, “Dan barang siapa berseru kepada nama Tuhan (Yesus) akan diselamatkan”. Ini adalah kalimat utama dari Perjanjian Baru. Ketika Paulus berada di penjara di Filipi, dia juga berbicara tentang tema utama ini dengan kepala penjaranya dan berkata, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu” (Kisah Para Rasul 16:31). Berita ini singkat saja tetapi menjangkau sangat dalam dan mengubah hidup. Masih di malam yang sama, penjaga penjara tersebut bertobat kepada Tuhan Yesus dan mereka mendengarkan ajakan undangan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus menyelamatkan kita dari apa? Kita harus mengetahui hal ini, jalan yang menghindarkan kita dari jalan maut, yakni neraka. Sehubungan dengan surga dan neraka, Alkitab berkata bahwa manusia akan tinggal selamanya di sana. Yang satu indah, yang lain mengerikan. Tidak ada tempat ketiga. Lima menit setelah kematian tidak ada seorangpun yang bisa berkata lagi, semuanya berakhir setelah kematian. Pada pribadi Yesuslah segalanya diputuskan. Tempat abadi kita bergantung pada satu pribadi, yakni Yesus, dan dari hubungan kita dengan Dia. Ketika saya berada di Polandia untuk satu tugas penginjilan, kami mengunjungi tempat yang bernama Ausschwitz, di mana orang-orang Yahudi dahulu dibunuh dengan gas oleh Hitler. Keadaan ketika perang dunia kedua sangat mencekam. Dari tahun 1942 – 1944, lebih dari 1,6 juta manusia telah dibunuh di sana. Kebanyakan mereka dibunuh dengan gas dan setelah itu dibakar. Semua ini diceritakan dalam buku yang berjudul “Neraka dari Ausschwitz.” Saya membayangkan, bagaimana jika kita digiring ke sebuah kamar gas yang di dalamnya enam ratus orang akan mati seketika. Sesuatu yang sungguh mengerikan. Tetapi apakah ini neraka? Sekarang kita bisa mengunjungi kota di mana kamar gas ini berada karena kekejaman yang terjadi berakhir pada tahun 1945. Kini tempat ini dibuka untuk umum sebagai peringatan di mana banyak orang telah dibunuh dan didera. Hal ini menunjukkan bahwa kamar gas dari Ausschwitz hanya bersifat sementara, sedangkan neraka yang dituliskan di Alkitab abadi adanya. Di pintu masuk dari rumah gas di Ausschwitz yang kini menjadi museum itu, pandangan saya tertuju pada sebuah gambar berupa sebuah salib dengan tubuh Kristus yang diukir dengan cara mencungkil dinding dengan paku oleh seorang pesakitan, yang merujuk pada penyerahan pengharapannya pada salib Kritus. Seniman ini kemudian juga harus mati di ruang gas. Tetapi dia mengenal penebus itu, Yesus Kristus. Memang dia mati di tempat yang mengerikan, tetapi surga terbuka baginya. Sehubungan dengan neraka yang dinyatakan dengan tegas oleh Tuhan Yesus dalam Perjanjian Baru (seperti di Matius 7:13; Matius 5:29-30; Matius 18:8), disana memang tidak ada kesempatan untuk melarikan diri atau mendapatkan pertolongan. Neraka adalah Ausschwitz yang abadi, karenanya dia tidak dapat dikunjungi. Demikian pula halnya dengan surga yang adalah abadi. Dan ke tempat inilah Tuhan mau mengantarkan kita. Karenanya, biarkanlah Anda diundang masuk ke surga. Panggillah nama Tuhan, dengan demikian tempat telah Anda pesan di sana! Suatu ketika setelah saya memberikan ceramah, seorang ibu bertanya, “Bisakah seseorang memesan tempat di surga? Kedengarannya seperti di travel biro.” Saya mengiyakan dengan berkata, “Siapa yang tidak memesan tidak sampai ke tujuan. Kalau Anda mau terbang ke Hawaii, Anda memerlukan tiket yang berlaku.” Ibu itu bertanya kembali, “Tidakkah tiket penerbangan yang dimaksudkan harus dibayar?” Saya membalasnya, “Oh, ya. Tiket ke surga juga harus dibayar. Tetapi harganya begitu mahal dan tidak seorangpun dari kita yang mampu membayarnya. Dosa kita telah menghalanginya. Siapa yang setelah kehidupan ini ingin masuk pada kehidupan kekal dalam Tuhan di surga, haruslah mendapatkan pengampunan dosa sebelumnya. Pengampunan yang juga berupa pembayaran ini hanya bisa dilunasi oleh seseorang yang tanpa dosa, dan seseorang ini adalah Yesus Kristus. Hanya Dia yang bisa menjadi pelunas segala hutang dosa kita! Dan dia telah membayarnya dengan darah-Nya, dengan kematian-Nya di kayu salib.” Dan apa yang harus Anda lakukan sekarang, supaya Anda bisa masuk surga? Undangan ini ditujukan kepada kita. Alkitab menggarisbawahi banyak hal yang mendorong kita untuk mengambil sikap terhadap undangan Tuhan seperti ini. “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu” (Lukas 13:24). “Bertobatlah sebab kerajaan Sorga sudah dekat” (Matius 4:17). “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya, karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya” (Matius 7:13-14). “Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi” (1 Timotius 6:12). “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu” (Kisah Para Rasul 16:31). Semuanya adalah bentuk undangan yang mendesak. Kita merasakan keseriusan dalam kalimat tersebut yang memicu dan mendesak diambilnya suatu keputusan. Karenanya, tindakan yang paling konsekuen dalam menanggapi undangan surgawi ini adalah jawaban Anda dalam bentuk doa seperti berikut: “Tuhan Yesus, hari ini saya membaca bahwa hanya lewat Engkaulah saya bisa masuk surga. Kelak saya ingin bersama Engkau di surga. Selamatkanlah saya dari neraka. Ke dalamnyalah saya seharusnya berada karena dosa-dosa saya. Namun, karena Engkau sangat mengasihi saya, Engkau telah mati di salib dan membayar hukuman ganti dosa saya. Engkau melihat semua dosa saya sejak saya kecil. Engkau mengenal semua dosa saya, semua yang saya sadari maupun yang tidak saya sadari, bahkan yang telah terlupakan. Engkau mengetahui setiap detak jantung saya. Di hadapan-Mu saya adalah sebuah buku yang terbuka. Sebagaimana saya adanya, saya tidak bisa datang kepada-Mu ke surga. Saya memohon ampunilah kiranya semua dosa-dosa saya. Saya sangat menyesalinya. Masuklah sekarang dalam hidup saya dan perbaruilah saya. Bantulah saya untuk menyerahkan semua yang tidak benar di hadapan-Mu dan anugerahkanlah kebiasaan hidup yang baru kepada saya. Bukakanlah jalan pengertian kepada Firman-Mu di Alkitab bagi saya. Tolong saya sehingga saya bisa mengerti apa yang hendak Kau katakan kepada saya. Berikanlah kepada saya hati yang taat sehingga saya melakukan apa yang menjadi kehendak-Mu. Mulai kini Engkau adalah TUHAN saya. Saya mau mengikuti Engkau dan tunjukkanlah jalan-Mu dalam segenap bagian hidup saya. Terima kasih bahwa Engkau telah mendengar doa saya, dan saya kini menjadi anak Allah, yang kelak boleh berada serta-Mu di surga. Amin.” Direktur dan Profesor Dr.-Ing. Werner Gitt